Salam Pariwisata,,
Teman, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah tak dapat dielakkan lagi. Pemerintahan SBY-JK pun menuai protes dari berbagai lapisan dan elemen masyarakat. Karena saat harga BBM naik, maka hampir dapat dipastikan harga-harga komoditas lain ikut naik. Dan tentu saja, masyarakat yang menjadi korban. Apakah para wakil rakyat kita telah sedemikian ‘tega’ menyiksa kita dengan harga-harga yang melambung tinggi?
Teman, ketahuilah, ketika kita menemukan fenomena sosial, maka kita harus dapat memandang fenomena tersebut dari berbagai kacamata dan konteksnya. Kenaikan BBm tidak bisa hanya dipandang dari kacamata ‘susah’. Karena kita sadar bahwa selama ini kita telah hidup dengan subsidi BBM dari pemerintah yang sedemikian tinggi. Sehingga, karena terlalu lama ‘dimanjakan’ oleh harga BBm yang terjangkau, masyarakat tidak siap menerima kenaikan BBM. Sedangkan di sisi lain, pemerintah sudah tidak mampu terus menerus memberikan subsidi BBM yang nominalnya tentu sangat besar, mengingat harga minyak dunia yang jauh di atas harga minyak dalam negeri kita. Kalau anda punya teman di luar negeri, coba tanyakan berapa harga bensin seliter disana. Tentunya sangat jauh lebih tinggi dibanding dengan negara kita. Kenapa kita tidak mencoba untuk membiasakan diri ‘susah’?
Mungkin ini memang dari kacamata pemerintah. Namun, mari kita buka mata dan menyikapi sesuatu dengan positif. Di sekitar saya, saya melihat dengan adanya kenaikan BBM, Vinka teman kuliah saya, memilih jalan kaki daripada naek motor dari kos nya ke kampus. Nunky temen belajar saya memarkir ‘manis-manis’ mobilnya dan beralih ke sepeda motor demi menghemat bensin. Jika di luar sana banyak Vinka dan Nunky yang lain, saya berpikir pastilah Surabaya tidak akan semacet dan setercemar sekarang.. (saya kuliah di surabaya).
Bagaimana dengan teman-teman di Probolinggo?
Sedikit cerita, tidak bermaksud menggurui, rekan Kang ’07 Galang, dia saat-saat ini lebih sering terlihat kemana-mana menggunakan sepeda tak bermotor, -sepeda onthel-. Bagi Galang, mungkin saja naik sepeda berarti hemat bensin, olahraga, mengurangi polusi udara. Anda..?
Mari rekan-rekan semua warga Kota Probolinggo, tunjukkan sikap positif menyikapi fenomena yang ada di sekitar kita. Tak ada salahnya berhemat, toh kita juga dapat hidup layak kan?
Demi masa, demi anak cucu kita.
Kang Mirza ’04