Saya suka jalan-jalan. Dan saya yakin, anda pun menyukainya. Menyenangkan rasanya berada di lingkungan baru, melihat hal-hal yang baru dan mengalami pengalaman-pengalaman yang baru. Namun, masihkah anda suka jalan-jalan ketika orang-orang yang ada di daerah tujuan anda bersikap “tidak ramah” dan “tidak bersahabat”?
Saya akan berpikir dua kali untuk pergi kembali lagi,,
bagaimana dengan anda?
Hal inilah yang sepantasnya dipahami oleh masyarakat Indonesia. Karena saya orang Probolinggo, maka saya akan berbicara dalam konteks Kota Probolinggo. Masih banyak sekali warga Kota Probolinggo yang kurang memahami apa arti penting dari saling menghargai, menghormati, dan bersahabat dengan sesamanya, khususnya dengan warga asing.
Pemikiran ini bermula pada saat saya hendak pergi reuni dengan teman-teman SMA ke Bromo, saya mengalami beberapa kekecewaan dan keluhan dari para turis asing yang datang ke Probolinggo. Ketika berangkat, saya sangat sebal dengan tingkah laku dan gaya para kenek bison (satu-satunya kendaraan umum yang berangkat dari terminal Kota Probolinggo menuju Cemorolawang yang jam pemberangkatannya hanya tiga kali sehari, setidaknya!). Mereka sangat diskriminatif pada orang-orang non-Probolinggo yang hendak pergi ke Bromo. Tidak hanya turis asing, tetapi juga domestik.
Seperti pengalaman saya waktu itu. Saya termasuk orang Probolinggo yang kata orang jika saya berbicara, logat saya sama sekali bukan Probolinggo. Malah banyak yang mengira saya orang ‘jauh’. Ketika saya bertanya pada kenek angkot apakah rute ke Cemorolawang bisa langsung dicapai dengan satu bison saja, si kenek mengisyaratkan sesuatu pada rekannya sesama kenek dan kemudian menjawab dengan logat madura yang sangat kental “Cemorolawang itu harus oper mas. Kalo dari sini naek bison dulu, trus oper di Sukapura naik Jip. Tapi sampeyan repot mas. Jarang ada jip yang mau ngangkut jam segini. Sampeyan tak antarkan langsung ke Cemorolawang ndak papa wes, padahal harusnya ndak bisa. Murah mas kalo naek angkot saya, dari terminal sampai cemorolawang langsung cuma 100ribu per orang!”
Alangkah sebalnya saya! Padahal saya hanya mengetes bagaimana kinerja “para pekerja penunjang pariwisata kota probolinggo” ini. Baru setelah saya katakan bahwa saya orang probolinggo asli, terlebih saya juga salah satu finalis duta wisata kota Probolinggo 2004, dia langsung ngaku kalau naik bison langsung ke cemorolawang hanya ’20ribu’. Padahal saya tahu biasanya hanya 15ribu. Tapi tak apalah, daripada saya tidak jadi berangkat. Seharusnya armada dari dan ke Bromo diperbanyak, sehingga para pelaku transportasi penunjang pariwisata ini tidak seenaknya.
Kekecewaan saya tidak berhenti sampai disitu. Saat saya sampai di Cafe Lava, hostel tempat saya menginap di Cemorolawang, saya baru tau bahwa Cafe Lava ini adalah jujugan menginap para turis asing. Tempatnya nyaman, pelayanannya memuaskan, dan harga relatif murah. Dalam waktu singkat, saya sudah berteman ‘akrab’ dengan tetangga kamar saya, pasangan Bruce-Joanna dari Belanda, Daniel dari Jerman, dan John dari Ceko. Ketika sedang dinner bersama, kita ngobrol ngalor-ngidul dan terungkaplah keluh kesah mereka seputar perjalanan menuju ke Bromo dari Probolinggo.
Bruce-Joanna diharuskan membayar 30ribu per orang untuk rute angkot dari stasiun Probolinggo menuju terminal Bayuangga. Belum lagi saat naik bison menuju Cemorolawang, mereka diharuskan membayar 50ribu per orang. Total dari stasiun Kota menuju Cemorolawang, mereka telah mengeluarkan uang 80ribu per orang yang berarti 160ribu karena mereka adalah pasangan.
Daniel dan John juga mengalami kesialan yang sama. Rata-rata mereka ditarik tarif berlipat-lipat dari tarif normal. Usut punya usut, mereka tidak langsung diangkut ke terminal, melainkan dibawa jauh menyimpang dari rute yang sebenarnya.
“Every people in here always judge us that we are rich and moneyable”,keluh John dengan desah nafas kesal.
Saya pribadi merasa malu sebagai bagian dari masyarakat Kota Probolinggo. Saya langsung meminta maaf atas nama warga Kota Probolinggo atas pengalaman buruk yang mereka alami. Dari keluhan mereka, saya seolah-olah bercermin pada diri sendiri. Kemana saja dan apa saja yang saya lakukan selama ini sebagai salah satu bagian dari duta wisata Kota Probolinggo sementara turis-turis yang dari dan ke Kota Probolinggo mengalami perlakuan yang tidak semestinya. Saya benar-benar merasa bersalah.
Di satu sisi, saya tidak bisa menyalahkan para ‘pelaku’ yang telah ‘usil’ pada turis-turis tersebut. karena mereka pasti hanya ‘money-oriented’ tanpa peduli apa itu orientasi kepariwisataan. Mereka tidak sadar bahwa apa yang telah mereka perbuat cepat atau lambat langsung maupun tidak langsung, akan merugikan diri mereka sendiri sebagai warga Kota Probolinggo. Saya paham Bromo memang bukan milik Kota Probolinggo, namun dalam konteks akses menuju Bromo, Kota Probolinggo adalah daerah transit penting yang sudah seharusnya dikelola dengan baik dan perencanaan matang oleh sumber daya manusia yang skilfull.
Melalui tulisan ini, saya hanya ingin memberikan pemikiran dan ajakan bahwa mari kita saling menghargai dan menghormati dengan bertindak jujur. Terlebih pada turis asing. Seharusnya kita sebagai warga tuan rumah, sudah sepantasnyalah kita melayani dan mempermudah akses mereka dan membuat mereka betah, nyaman dan terkesan dengan apa yang Kota Probolinggo berikan. Bukankah kita ingin pariwisata Kota Probolinggo maju?
Mulailah dari diri sendiri dan orang-orang di sekitar anda. Saya yakin, budaya itu adalah bentuk hasil dari konstruksi perilaku manusia. Oleh karena itu, jika tiap-tiap individu telah berperilaku jujur dan saling menghormati, akan sangat membanggakan ketika orang luar mengatakan bahwa warga kota Probolinggo adalah warga Kota yang berbudaya baik.
Belum lagi masalah ketepatan waktu. Orang sudah men-cap bangsa kita adalah bangsa yang ‘jam karet’. Jika janjian jam 08.00, maka sudah tahu sama tahu bahwa itu artinya adalah jam 09.00.
“In Germany, if we have an appointment at 08.30, it means 08.25 until 08.35. But in Indonesia isn’t same”, Curhat Daniel.
Sampai kapan kita ingin bangsa kita di-cap sebagai bangsa yang tidak disiplin?
Apakah kita bangga dengan trade mark seperti itu?
Saya akui bangsa kita sangat terkenal di luar sana dengan trade mark-trade mark yang lain. Setidaknya selain rubber-time, kita juga corrupt-country, terrorist-country, dan lain-lain (saya tidak sampai hati menyebutkannya)
Mau menangis rasanya.
Tapi tentu saja masalah ini tidak akan selesai dengan hanya rasa bersalah di hati dan tetesan air mata di pelupuk. Harus ada tindakan nyata untuk ini.
Sesuai dengan apa yang saya dapat lakukan, setidaknya tulisan ini saya harapkan dapat menggugah kita semua untuk instropeksi diri dan bersama-sama mewujudkan visi good nation, good people, good citizen.
Beberapa minggu kemudian, di dalam kereta Mutiara Timur dari stasiun Gubeng menuju Stasiun Probolinggo, saya duduk di Gerbong Bisnis Kereta 3 nomor 14C. Dan kebetulan di kereta 3 nomor 14D adalah seorang turis asal Australia yang hendak ke Bromo. Setelah kita saling bercanda dan ngobrol banyak hal, saya berjanji akan membantu dia untuk menunjukkan angkot yang akan membawa dia ke terminal dan informasi-informasi yang sekiranya Steve, namanya, butuhkan.
Benar saja, saat turun dari kereta, puluhan tukang becak dan calo angkot menyerbu kami. Hal ini sudah saya kira. Turis selalu jadi penarik perhatian yang sangat kuat bagi mereka. Saya tidak paham, apakah turis ini di mata mereka ‘bau’ uang atau gimana, saya tak habis pikir. Baru setelah saya yakinkan bahwa Steve ada bersama saya, mereka menyerah membujuk Steve. Kelar mengantarkan Steve naik angkot yang benar dan telah saya bayar di muka, saya berdiri di depan Bakso Stasiun sambil menunggu jemputan.
Tak berapa lama, saya mendengar keributan kecil di belakang saya. Ternyata tiga orang turis asing sedang dikerumuni oleh puluhan tukang becak dan calo angkot yang masing-masing berusaha memperdayai tiga turis itu dengan ‘bualan’ masing-masing. Saya amati dan dengarkan perdebatan mereka.
Dengan menggunakan bahasa inggris yang sepotong-sepotong dan bahasa isyarat seadanya, mereka menawarkan ketiga turis tersebut untuk mengantar mereka ke terminal dengan ‘hanya’ membayar biaya angkut masing-masing orang 50ribu!!
Dan begitu kagetnya saya ketika salah seorang tukang becak dengan sangat agresif membawakan tas jinjing turis-turis tersebut sambil berkata “Ke terminal itu jauh. Harus lewat Dringu. Cuma bisa naek becak. Gag ada angkutan kota yang kesana” (dalam bahasa madura campur Jawa). Si turis yang tidak mengerti ‘manut’ saja walaupun dengan mimik muka bersungut-sungut karena mahalnya biaya.
Tak tahan melihat hal itu, saya memberanikan diri menghampiri ketiga turis tersebut dan dengan lantang saya berikan informasi yang benar menuju terminal. Saya naikkan mereka ke angkot yang benar dan saya titipkan pada si sopir untuk diturunkan langsung di tempat pemberhentian bison menuju Bromo.
Tahukah anda yang saya dapatkan akibat dari perbuatan nekad saya?
Cemoohan para tukang becak.
Cacian para calo angkot.
Hujatan para porter barang.
Kekerasan Verbal mengancam para tukang becak, calo angkot dan porter barang…
Fiuhh….
Untung saja teman saya yang hendak menjemput saya segera datang. Kalau tidak saya kurang yakin akan bisa pulang ke rumah dengan badan tanpa memar.
Hehehe, mungkin saya memang berlebihan..
Sambil duduk di boncengan motor, saya menggumam pelan “Pergi ke Terminal lewat Dringu.. Naek becak… ?!
MIRZA AFFANDY.
PKY’04