PERSYARATAN PESERTA DUTA WISATA KANG & YUK KOTA PROBOLINGGO 2008

  • Pria / Wanita Umur 16 – 23 tahun
  • Tinggi badan min. 165 cm (pria) & 160 cm (wanita)
  • Berdomisili di Kota Probolinggo
  • Memiliki minat yang tinggi terhadap kepariwisataan Kota Probolinggo
  • Berwawasan luas
  • Mampu berbahasa asing
  • Belum menikah
  • Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikan ke tempat pendaftaran dengan dilengkapi :

- Fotokopi KTP (Kota Probolinggo)/Kartu Pelajar/Kartu Tanda Mahasiswa

- Pas Foto berwarna 4×6 cm (3 lembar)

- Foto berwarna Close Up ukuran 5R (1 lembar)

- Foto berwarna seluruh badan 5R (1 lembar)

- Surat izin sekolah/kampus/tempat kerja yang bersangkutan

- Surat izin orang tua/wali

Persyaratan peserta kemudian dikumpulkan bersama dengan formulir di Hotel Bromo View, Jalan Raya Sukapura Km. 05 atau di Radio Suara Kota.

TTD

KETUA PAGUYUBAN

KANG & YUK KOTA PROBOLINGGO

Komentar bertahan »

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

PAGUYUBAN KANG & YUK KOTA PROBOLINGGO 2008

MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

MOHON MAAF LAHIR & BATIN

KETUA PAGUYUBAN KANG & YUK KOTA PROBOLINGGO

Komentar bertahan »

ROADSHOW KEPARIWISATAAN KANG YUK KOTA PROBOLINGGO

Salam Pariwisata!

Pada tanggal 14 – 21 Juli 2008, Paguyuban Kang Yuk Kota Probolinggo berkesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan para generasi muda di sekolah-sekolah menengah Kota Probolinggo, dalam rangkaian Roadshow Wawasan Kepariwisataan dengan tema “Pemuda Cinta Pariwisata”.

Andromeda Sain, Ketua Paguyuban Kang Yuk Kota Probolinggo menyatakan bahwa roadshow ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran pariwisata dalam benak generasi muda dan turut serta dalam upaya membantu program pemerintah Kota Probolinggo di bidang kepariwisataan. Lebih lanjut, roadshow ini juga merupakan wujud nyata tanggung jawab Paguyuban Kang Yuk Kota Probolinggo sebagai duta wisata Kota Probolinggo.

Acara roadshow ini mendapat sambutan yang cukup positif dari kalangan generasi muda Kota Probolinggo. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta roadshow untuk ikut berpartisipasi melalui saran, masukan, ide-ide dan pemikiran cerdas tentang pengelolaan dan pengembangan pariwisata Kota Probolinggo. Roadshow yang terbagi menjadi dua sesi ini, berjalan cukup seru dan menarik. Pada sesi awal, Kang Reza ’07 dan Yuk Janita ‘o7 sebagai juru bicara dari Paguyuban  Kang Yuk Kota Probolinggo menyampaikan presentasi wawasan kepariwisataan dan pada sesi kedua dilanjutkan dengan tanya jawab.

Dari sekian banyak masukan pendapat dari para pelajar, yang menarik adalah mayoritas menyoroti tentang pelabuhan tanjung tembaga. Mereka mengkritisi tentang kotornya tanjung tembaga yang mengganggu pemandangan. Bahkan menurut mereka, pemerintah daerah masih belum maksimal dalam mengelola tanjung tembaga sebagai tempat wisata. Namun demikian, mereka juga memuji pengelolaan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) yang menurut mereka merupakan wahana baru wisata lingkungan di Kota Probolinggo.

Tentu saja semua masukan, ide, saran, kritik, dan pujian dari semua peserta roadshow diterima oleh Paguyuban Kang Yuk Kota Probolinggo untuk menjadi sebuah resolusi dan instropeksi dalam pengelolaan kepariwisataan. Selain itu, semua masukan tersebut akan diteruskan kepada pihak-pihak terkait pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Kantor Pemuda, Budaya dan Pariwisata.

Secara khusus, kami dari Paguyuban Kang Yuk Kota Probolinggo menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sekolah-sekolah yang telah bersedia menjadi peserta roadshow, antara lain SMA Negeri 1 Kota Probolinggo, SMA Negeri 3 Kota Probolinggo, SMA Negeri 4 Kota Probolinggo dan MAN 2 Kota Probolinggo.

Harapan kami, semoga wawasan kepariwisataan dapat lebih disadari oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai sebuah unsur perkembangan Kota Probolinggo. Dengan roadshow wawasan kepariwisataan yang ditujukan kepada generasi muda ini dapat mewujudkan tujuan yang dikehendaki sesuai dengan tema “Pemuda Cinta Pariwisata”.

Sampai Jumpa di Roadshow Kepariwisataan berikutnya dengan sasaran yang lebih luas.

Terima Kasih.

Komentar (1) »

MENYIKAPI KENAIKAN BBM DENGAN BIJAK

Salam Pariwisata,,

Teman, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah tak dapat dielakkan lagi. Pemerintahan SBY-JK pun menuai protes dari berbagai lapisan dan elemen masyarakat. Karena saat harga BBM naik, maka hampir dapat dipastikan harga-harga komoditas lain ikut naik. Dan tentu saja, masyarakat yang menjadi korban. Apakah para wakil rakyat kita telah sedemikian ‘tega’ menyiksa kita dengan harga-harga yang melambung tinggi?

Teman, ketahuilah, ketika kita menemukan fenomena sosial, maka kita harus dapat memandang fenomena tersebut dari berbagai kacamata dan konteksnya. Kenaikan BBm tidak bisa hanya dipandang dari kacamata ‘susah’. Karena kita sadar bahwa selama ini kita telah hidup dengan subsidi BBM dari pemerintah yang sedemikian tinggi. Sehingga, karena terlalu lama ‘dimanjakan’ oleh harga BBm yang terjangkau, masyarakat tidak siap menerima kenaikan BBM. Sedangkan di sisi lain, pemerintah sudah tidak mampu terus menerus memberikan subsidi BBM yang nominalnya tentu sangat besar, mengingat harga minyak dunia yang jauh di atas harga minyak dalam negeri kita. Kalau anda punya teman di luar negeri, coba tanyakan berapa harga bensin seliter disana. Tentunya sangat jauh lebih tinggi dibanding dengan negara kita. Kenapa kita tidak mencoba untuk membiasakan diri ‘susah’?

Mungkin ini memang dari kacamata pemerintah. Namun, mari kita buka mata dan menyikapi sesuatu dengan positif. Di sekitar saya, saya melihat dengan adanya kenaikan BBM, Vinka teman kuliah saya, memilih jalan kaki daripada naek motor dari kos nya ke kampus. Nunky temen belajar saya memarkir ‘manis-manis’ mobilnya dan beralih ke sepeda motor demi menghemat bensin. Jika di luar sana banyak Vinka dan Nunky yang lain, saya berpikir pastilah Surabaya tidak akan semacet dan setercemar sekarang.. (saya kuliah di surabaya).

Bagaimana dengan teman-teman di Probolinggo?

Sedikit cerita, tidak bermaksud menggurui, rekan Kang ’07 Galang, dia saat-saat ini lebih sering terlihat kemana-mana menggunakan sepeda tak bermotor, -sepeda onthel-. Bagi Galang, mungkin saja naik sepeda berarti hemat bensin, olahraga, mengurangi polusi udara. Anda..?

Mari rekan-rekan semua warga Kota Probolinggo, tunjukkan sikap positif menyikapi fenomena yang ada di sekitar kita. Tak ada salahnya berhemat, toh kita juga dapat hidup layak kan?

Demi masa, demi anak cucu kita.

Kang Mirza ’04

Komentar bertahan »

PERGI KE TERMINAL LEWAT DRINGU (NAEK BECAK) ?!

Saya suka jalan-jalan. Dan saya yakin, anda pun menyukainya. Menyenangkan rasanya berada di lingkungan baru, melihat hal-hal yang baru dan mengalami pengalaman-pengalaman yang baru. Namun, masihkah anda suka jalan-jalan ketika orang-orang yang ada di daerah tujuan anda bersikap “tidak ramah” dan “tidak bersahabat”?
Saya akan berpikir dua kali untuk pergi kembali lagi,,
bagaimana dengan anda?

Hal inilah yang sepantasnya dipahami oleh masyarakat Indonesia. Karena saya orang Probolinggo, maka saya akan berbicara dalam konteks Kota Probolinggo. Masih banyak sekali warga Kota Probolinggo yang kurang memahami apa arti penting dari saling menghargai, menghormati, dan bersahabat dengan sesamanya, khususnya dengan warga asing.

Pemikiran ini bermula pada saat saya hendak pergi reuni dengan teman-teman SMA ke Bromo, saya mengalami beberapa kekecewaan dan keluhan dari para turis asing yang datang ke Probolinggo. Ketika berangkat, saya sangat sebal dengan tingkah laku dan gaya para kenek bison (satu-satunya kendaraan umum yang berangkat dari terminal Kota Probolinggo menuju Cemorolawang yang jam pemberangkatannya hanya tiga kali sehari, setidaknya!). Mereka sangat diskriminatif pada orang-orang non-Probolinggo yang hendak pergi ke Bromo. Tidak hanya turis asing, tetapi juga domestik.

Seperti pengalaman saya waktu itu. Saya termasuk orang Probolinggo yang kata orang jika saya berbicara, logat saya sama sekali bukan Probolinggo. Malah banyak yang mengira saya orang ‘jauh’. Ketika saya bertanya pada kenek angkot apakah rute ke Cemorolawang bisa langsung dicapai dengan satu bison saja, si kenek mengisyaratkan sesuatu pada rekannya sesama kenek dan kemudian menjawab dengan logat madura yang sangat kental “Cemorolawang itu harus oper mas. Kalo dari sini naek bison dulu, trus oper di Sukapura naik Jip. Tapi sampeyan repot mas. Jarang ada jip yang mau ngangkut jam segini. Sampeyan tak antarkan langsung ke Cemorolawang ndak papa wes, padahal harusnya ndak bisa. Murah mas kalo naek angkot saya, dari terminal sampai cemorolawang langsung cuma 100ribu per orang!”

Alangkah sebalnya saya! Padahal saya hanya mengetes bagaimana kinerja “para pekerja penunjang pariwisata kota probolinggo” ini. Baru setelah saya katakan bahwa saya orang probolinggo asli, terlebih saya juga salah satu finalis duta wisata kota Probolinggo 2004, dia langsung ngaku kalau naik bison langsung ke cemorolawang hanya ’20ribu’. Padahal saya tahu biasanya hanya 15ribu. Tapi tak apalah, daripada saya tidak jadi berangkat. Seharusnya armada dari dan ke Bromo diperbanyak, sehingga para pelaku transportasi penunjang pariwisata ini tidak seenaknya.

Kekecewaan saya tidak berhenti sampai disitu. Saat saya sampai di Cafe Lava, hostel tempat saya menginap di Cemorolawang, saya baru tau bahwa Cafe Lava ini adalah jujugan menginap para turis asing. Tempatnya nyaman, pelayanannya memuaskan, dan harga relatif murah. Dalam waktu singkat, saya sudah berteman ‘akrab’ dengan tetangga kamar saya, pasangan Bruce-Joanna dari Belanda, Daniel dari Jerman, dan John dari Ceko. Ketika sedang dinner bersama, kita ngobrol ngalor-ngidul dan terungkaplah keluh kesah mereka seputar perjalanan menuju ke Bromo dari Probolinggo.

Bruce-Joanna diharuskan membayar 30ribu per orang untuk rute angkot dari stasiun Probolinggo menuju terminal Bayuangga. Belum lagi saat naik bison menuju Cemorolawang, mereka diharuskan membayar 50ribu per orang. Total dari stasiun Kota menuju Cemorolawang, mereka telah mengeluarkan uang 80ribu per orang yang berarti 160ribu karena mereka adalah pasangan.
Daniel dan John juga mengalami kesialan yang sama. Rata-rata mereka ditarik tarif berlipat-lipat dari tarif normal. Usut punya usut, mereka tidak langsung diangkut ke terminal, melainkan dibawa jauh menyimpang dari rute yang sebenarnya.

“Every people in here always judge us that we are rich and moneyable”,keluh John dengan desah nafas kesal.

Saya pribadi merasa malu sebagai bagian dari masyarakat Kota Probolinggo. Saya langsung meminta maaf atas nama warga Kota Probolinggo atas pengalaman buruk yang mereka alami. Dari keluhan mereka, saya seolah-olah bercermin pada diri sendiri. Kemana saja dan apa saja yang saya lakukan selama ini sebagai salah satu bagian dari duta wisata Kota Probolinggo sementara turis-turis yang dari dan ke Kota Probolinggo mengalami perlakuan yang tidak semestinya. Saya benar-benar merasa bersalah.

Di satu sisi, saya tidak bisa menyalahkan para ‘pelaku’ yang telah ‘usil’ pada turis-turis tersebut. karena mereka pasti hanya ‘money-oriented’ tanpa peduli apa itu orientasi kepariwisataan. Mereka tidak sadar bahwa apa yang telah mereka perbuat cepat atau lambat langsung maupun tidak langsung, akan merugikan diri mereka sendiri sebagai warga Kota Probolinggo. Saya paham Bromo memang bukan milik Kota Probolinggo, namun dalam konteks akses menuju Bromo, Kota Probolinggo adalah daerah transit penting yang sudah seharusnya dikelola dengan baik dan perencanaan matang oleh sumber daya manusia yang skilfull.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin memberikan pemikiran dan ajakan bahwa mari kita saling menghargai dan menghormati dengan bertindak jujur. Terlebih pada turis asing. Seharusnya kita sebagai warga tuan rumah, sudah sepantasnyalah kita melayani dan mempermudah akses mereka dan membuat mereka betah, nyaman dan terkesan dengan apa yang Kota Probolinggo berikan. Bukankah kita ingin pariwisata Kota Probolinggo maju?

Mulailah dari diri sendiri dan orang-orang di sekitar anda. Saya yakin, budaya itu adalah bentuk hasil dari konstruksi perilaku manusia. Oleh karena itu, jika tiap-tiap individu telah berperilaku jujur dan saling menghormati, akan sangat membanggakan ketika orang luar mengatakan bahwa warga kota Probolinggo adalah warga Kota yang berbudaya baik.

Belum lagi masalah ketepatan waktu. Orang sudah men-cap bangsa kita adalah bangsa yang ‘jam karet’. Jika janjian jam 08.00, maka sudah tahu sama tahu bahwa itu artinya adalah jam 09.00.
“In Germany, if we have an appointment at 08.30, it means 08.25 until 08.35. But in Indonesia isn’t same”, Curhat Daniel.

Sampai kapan kita ingin bangsa kita di-cap sebagai bangsa yang tidak disiplin?
Apakah kita bangga dengan trade mark seperti itu?
Saya akui bangsa kita sangat terkenal di luar sana dengan trade mark-trade mark yang lain. Setidaknya selain rubber-time, kita juga corrupt-country, terrorist-country, dan lain-lain (saya tidak sampai hati menyebutkannya)

Mau menangis rasanya.
Tapi tentu saja masalah ini tidak akan selesai dengan hanya rasa bersalah di hati dan tetesan air mata di pelupuk. Harus ada tindakan nyata untuk ini.
Sesuai dengan apa yang saya dapat lakukan, setidaknya tulisan ini saya harapkan dapat menggugah kita semua untuk instropeksi diri dan bersama-sama mewujudkan visi good nation, good people, good citizen.

Beberapa minggu kemudian, di dalam kereta Mutiara Timur dari stasiun Gubeng menuju Stasiun Probolinggo, saya duduk di Gerbong Bisnis Kereta 3 nomor 14C. Dan kebetulan di kereta 3 nomor 14D adalah seorang turis asal Australia yang hendak ke Bromo. Setelah kita saling bercanda dan ngobrol banyak hal, saya berjanji akan membantu dia untuk menunjukkan angkot yang akan membawa dia ke terminal dan informasi-informasi yang sekiranya Steve, namanya, butuhkan.

Benar saja, saat turun dari kereta, puluhan tukang becak dan calo angkot menyerbu kami. Hal ini sudah saya kira. Turis selalu jadi penarik perhatian yang sangat kuat bagi mereka. Saya tidak paham, apakah turis ini di mata mereka ‘bau’ uang atau gimana, saya tak habis pikir. Baru setelah saya yakinkan bahwa Steve ada bersama saya, mereka menyerah membujuk Steve. Kelar mengantarkan Steve naik angkot yang benar dan telah saya bayar di muka, saya berdiri di depan Bakso Stasiun sambil menunggu jemputan.

Tak berapa lama, saya mendengar keributan kecil di belakang saya. Ternyata tiga orang turis asing sedang dikerumuni oleh puluhan tukang becak dan calo angkot yang masing-masing berusaha memperdayai tiga turis itu dengan ‘bualan’ masing-masing. Saya amati dan dengarkan perdebatan mereka.

Dengan menggunakan bahasa inggris yang sepotong-sepotong dan bahasa isyarat seadanya, mereka menawarkan ketiga turis tersebut untuk mengantar mereka ke terminal dengan ‘hanya’ membayar biaya angkut masing-masing orang 50ribu!!
Dan begitu kagetnya saya ketika salah seorang tukang becak dengan sangat agresif membawakan tas jinjing turis-turis tersebut sambil berkata “Ke terminal itu jauh. Harus lewat Dringu. Cuma bisa naek becak. Gag ada angkutan kota yang kesana” (dalam bahasa madura campur Jawa). Si turis yang tidak mengerti ‘manut’ saja walaupun dengan mimik muka bersungut-sungut karena mahalnya biaya.

Tak tahan melihat hal itu, saya memberanikan diri menghampiri ketiga turis tersebut dan dengan lantang saya berikan informasi yang benar menuju terminal. Saya naikkan mereka ke angkot yang benar dan saya titipkan pada si sopir untuk diturunkan langsung di tempat pemberhentian bison menuju Bromo.

Tahukah anda yang saya dapatkan akibat dari perbuatan nekad saya?

Cemoohan para tukang becak.
Cacian para calo angkot.
Hujatan para porter barang.
Kekerasan Verbal mengancam para tukang becak, calo angkot dan porter barang…

Fiuhh….
Untung saja teman saya yang hendak menjemput saya segera datang. Kalau tidak saya kurang yakin akan bisa pulang ke rumah dengan badan tanpa memar.
Hehehe, mungkin saya memang berlebihan..

Sambil duduk di boncengan motor, saya menggumam pelan “Pergi ke Terminal lewat Dringu.. Naek becak… ?!

MIRZA AFFANDY.
PKY’04

Komentar bertahan »

BLOG PAGUYUBAN KANG YUK : DARI, UNTUK, DAN OLEH SEMUANYA!

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberi perhatian dan apresiasi pada blog ini dengan memberikan komentar, masukan, saran dan bahkan kritik. Kami selalu menerima semuanya dengan tangan terbuka dan senyum hangat. Bagi kami, apresiasi semua pihak memberi angin segar demi perbaikan diri dan kreatifitas berikutnya.

Secara umum, kami ingin menginformasikan bahwa blog ini bukan dibuat hanya untuk komunitas kang yuk sendiri, melainkan ditujukan bagi semua user yang peduli dan apresiatif pada blog ini. Kami juga mengundang tulisan-tulisan dari masyarakat semua pada umumnya untuk dipublikasikan di blog ini, tentu saja melalui seleksi kelayakan muat atas asas-asas jurnalistik divisi komunikasi dan hubungan masyarakat Paguyuban kang Yuk Kota Probolinggo.

Semua tulisan yang ingin dimuat dengan perspektif masyarakat dapat dialamtkan pada email kami di : kangyukprobolinggo@yahoo.co.id dengan menyertakan informasi data diri anda, demi tanggung jawab isi dan orisinalitas tulisan.

Kedepannya, kami juga berharap blog ini dapat menjadi sarana komunikasi massa efektif bagi informasi mengenai kota Probolinggo, sehingga memudahkan masyarakat untuk mengetahui apa dan bagaimana kota Probolinggo itu sendiri.

Terima Kasih atas apresiasinya,

kami tunggu pada masukan berikutnya.

Salam pemuda dan pariwisata,

PAGUYUBAN KANG & YUK KOTA PROBOLINGGO.

Komentar (1) »

WARNA BARU, SEMANGAT BARU!

Selamat Datang di Web Blog Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo,

kang-yuk-2007.jpg

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas keberadaan Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo. Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan seluruh pihak terkait, akhirnya web blog ini dapat hadir kembali dengan warna baru dan semangat baru. Ucapan rasa syukur atas perhatian yang begitu besar dari masyarakat dan kepedulian kepada Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo membuat kami senantiasa terus berbenah diri dan mengevaluasi diri. Harapan kami, dengan terbitnya blog baru ini, telah mewakili keinginan dan ekspektasi masyarakat kepada Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo.
Tak Lupa kami atas nama Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo terlebih dahulu memohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan yang terdapat pada web blog Kang & Yuk Kota Probolinggo sebelumnya. Dengan berbesar hati dan penuh tanggung jawab, kami telah merevisi dan memperbaharui tampilan, isi, maupun aspek-aspek pada web blog kami sehingga saran, kritik dan masukan senantiasa kami harapkan. Sehubungan dengan kekhilafan kami pada penerbitan artikel di blog yang sebelumnya, kami memohon maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan tanpa terkecuali. Ketulusan permohonan maaf ini merupakan momen instropeksi diri bagi kami semua untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Dengan adanya web blog ini yang beralamat newkangyukprobolinggo.wordpress.com ini, secara otomatis kami mengumumkan bahwa web blog sebelumnya dengan alamat kangyukprobolinggo.wordpress.com telah dinonaktifkan. Semoga Web Blog newkangyukprobolinggo.wordpress.com yang kami launching dengan tema “Warna Baru, Semangat Baru!” ini dapat merepresentasikan ekspektasi masyarakat Kota Probolinggo khususnya kepada Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo.
Warna Baru, yaitu dengan adanya kepengurusan Paguyuban Kang & Yuk Kota Probolinggo yang baru saja dibentuk, semoga memberi spirit positif bagi optimisme kepemudaan Kota Probolinggo. Melalui Web Blog ini, anda dapat menyelami seluk beluk kepemudaan, kebudayaan dan kepariwisataan Kota Probolinggo.
Selamat mengunjungi Web Blog Kami.
Saran dan kritik dapat langsung dialamatkan ke comment pada blog ini, atau ke alamat email kami di kangyukprobolinggo@yahoo.co.id

Terima Kasih.

Komentar (9) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.